Mahasiswa UII Ubah Limbah Pertanian Jadi Pestisida

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Unit 310-315 Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil mengubah limbah pertanian berupa jerami dan sekam padi menjadi enegi terbarukan dan pestisida. Limbah pertanian, jerami dan sekam padi diubah menjadi briket dan asap cair menggunakan alat pirolisis.

Mereka menyosialisasikan penggunaan pirolisis kepada anggota kelompok tani Desa Butuh, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Bahkan hasil sulingan yang berupa asap cair telah diujicobakan sebagai pestisida organik bagi tanaman petani dan hasilnya cukup menggembirakan.

Dijelaskan Imam Sahroni, salah satu dosen pembimbing KKN Unit 310-315, selama ini, limbah pertanian yang berupa sekam hanya digunakan sebagai bahan pembakaran batu bata atau dibakar begitu saja. Petani belum memanfaatkan limbah tersebut secara optimal dan memiliki nilai ekonomis tinggi.

Sehingga mahasiswa KKN-PPM Unit 310-315 yang berada di bawah pembimbing utama Lutfia Isna Ardhayanti, berinisiatif mengolah limbah tersebut menjadi briket atau energi terbarukan dan asap cair atau pestisida. Kemudian mahasiswa KKN-PPM UII menyosialisasikan cara pengolahan tersebut kepada anggota kelompok tani.

“Sosialisasi dan pelatihan ini bertujuan memberikan informasi tambahan mengenai pemanfaatan limbah sekam dan jerami yang dapat diubah menjadi energi alternatif dalam bentuk briket dan pestisida alami yang berupa asap cair. Diharapkan temuan ini dapat meningkatkan perekonomian warga,” kata Roni, panggilan akrab Imam Sahroni.

Sosialisasi dan pelatihan, jelas Roni, dilakukan di Desa Butuh, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo yang dilaksanakan secara bergantian di setiap perdukuhan atau kelompok tani. Sehingga setiap pedukuhan atau kelompok tani mampu mengolah limbah pertanian menjadi alternatif energi terbarukan dan pestisida alami.

Sosialisasi dan pelatihan tersebut diikuti empat kelompok tani yaitu Kelompok Tani Makmur I, II, III dan IV. Mereka berasal dari Dusun Krajan, Dusun Abean, Dusun Adinegaran dan Dusun Ketundan.

Dalam sosialisasi, mahasiswa tidak hanya memberikan paparan mengenai proses pembuatan briket dan asap cair dari limbah sekam padi. Mereka mengajak warga berpartisipasi dalam membuat produk tersebut melalui simulasi pembuatan produk. Warga diberikan gambaran mengenai pemasaran produk hingga gambaran produksi skala besar.

Prodi Pendidikan Kimia UII Latih Siswa SMAN I Muntilan

Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (FMIPA UII) menerima 248 siswa kelas XI IPA SMAN I Muntilan, Jawa Tengah. Siswa mendapat pelatihan dari Prodi Pendidikan Kimia FMIPA UII meliputi pembuatan pasta gigi, elektroplating, penyulingan minyak atsiri, Kamis (20/9).

Kepala Program Studi Pendidikan Kimia, Krisna Merdekawati, mengapresiasi jajaran guru SMAN 1 Muntilan atas inisiasi untuk mengajak siswa ke FMIPA UII. Sehingga siswa SMAN I Muntilan dapat mengenal pelajaran kimia secara lebih komprehensif.

Lebih lanjut Krisna mengatakan Prodi Pendidikan Kimia FMIPA UII memiliki komitmen untuk memberikan sumbangsih pada kemajuan pendidikan kimia. Di antaranya, memberian pelatihan-pelatihan kepada siswa, guru, maupun masyarakat.

Sedang Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum SMAN 1 Muntilan, Subagyo, mengatakan  kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan siswa pada dunia kampus dan menambah wawasan siswa tentang aplikasi kimia. Selama ini, siswa masih sering menganggap kimia sebagai pelajaran yang sulit dan tidak aplikatif.

“Melalui kunjungan laboratorium siswa secara riil melihat aplikasi kimia dalam dunia industri maupun kehidupan sehari-hari. Siswa juga mengenal instrumen kimia, seperti AAS, spektrofotometeruv-vis, HPLC, GC-MS, FTIR, XRD,” kata Subagyo di sela-sela mendamping siswanya di Kampus FMIPA UII.

Menurut Subagyo, siswa menujukkan respons positif selama kegiatan berlangsung. Siswa mengikuti kegiatan dengan antusias. Siswa menjadi tahu beberapa contoh aplikasi kimia dalam kehidupan sehari-hari. Siswa juga melihat secara langsung beberapa instrumen yang digunakan untuk keperluan analisis kimia.

Sementara Dekan FMIPA UII, Prof Riyanto menyampaikan FMIPA membuka kesempatan kepada sekolah-sekolah untuk mengadakan kunjungan ataupun mengikuti pelatihan di FMIPA UII. “FMIPA UII terbuka bagi sekolah-sekolah yang ingin belajar kimia,” kata Riyanto.

 

(Republika)

Ganjar Fadillah Raih Metrohm Young Chemist Award 2018

Ganjar Fadillah (27), dosen muda Program Studi D3 Analisis Kimia, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (FMIPA UII) meraih Metrohm Indonesia Young Chemist Award 2018. Ia berhasil menjadi juara pertama dan mengalahkan peserrta dari Universitas Indonesia (UI) dan profesional alumni UI.

Ganjar mendapatkan hadiah berupa piagam dan uang sebesar Rp 30 juta. Ganjar juga akan mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Kantor Pusat Metrohm di Swiss bersama dengan pemenang pertama dari berbagai negara.

“Senang mendapat award ini. Semoga ini bisa memotivasi diri sendiri untuk melakukan yang lebih baik lagi dan levelnya lebih tinggi,” kata Ganjar Fadillah kepada wartawan di Kampus FMIPA UII Yogyakarta, Senin (17/9/2018).

Dijelaskan Ganjar, dirinya tertarik untuk mengikuti kompetisi ini karena temanya sangat berkaitan dengan penelitiannya. Kemudian Ganjar mengirimkan summary ke Metrohm Indonesia untuk dilombakan. Ternyata Ganjar mendapat panggilan dan diminta untuk memaparkan hasil penelitian di hadapan juri, Jumat (14/9/2018) lalu.

Juri, kata Ganjar, ada lima yaitu sales, marketing, kepala Metrohm, dan tim laboratorium. Ganjar mempresentasikan hasil penelitiannya tentang ‘Pengembangan Sensor Kimia Berbasis Polimer Bercetakan Molekul untuk Analisis Antioksidan BHA pada Sampel Pangan.’

Lebih lanjut Ganjar menjelaskan Butil Hidroksi Anisol (BHA) merupakan senyawa aditif yang banyak ditemukan pada produk-produk pangan. Senyawa ini mudah mengalami oksidasi seperti minyak goreng dan mentega.

Penggunaan senyawa ini dalam konsentrasi yang besar dapat mengakibatkan efek karsinogenik sehingga analisis senyawa ini sangat penting. Analisis senyawa ini dapat dilakukan dengan metode elektrokimia seperti voltammetri. Namun untuk meningkatkan tingkat sensitivitas dalam analisis senyawa tersebut diperlukan suatu modifikasi polimer bercetakan molekul di permukaan elektroda.

“Pada penelitian ini, modifikasi tersebut menunjukan kinerja yang baik dengan limit deteksi pengukuran sebesar 0,94 μM dan hasil analisis menujukan hasil yang tidak jauh berbeda dengan metode pembanding seperti HPLC (High Performance Liquid Chromatography,red),” kata Ganjar.

Metrohm Young Chemist Award 2018 merupakan salah satu agenda yang diadakan Perusahaan Metrohm yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun. Metrohm didirikan oleh Bertold Suhner, seorang ilmuan muda dan cerdas. Beberapa tema yang diangkat dalam kegiatan ini antara lain elektrokimia, spektroskopi, titrasi dan ion kromatografi.

 

(red: Hery Purwata)

Prodi Kimia UII Didik Mahasiswa Jadi Entrepreneur

Ketua Program Studi (Prodi) Kimia, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (FMIPA UII), Dr Dwiarso Rubiyanto menandaskan kuliah di Prodi Kimia tidak hanya mempelajari rumus dan praktikum saja. Namun Prodi Kimia juga mendidik mahasiswa untuk menjadi entrepreneur yang bisa membuka lapangan kerja bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Dwiarso Rubiyanto mengemukakan hal tersebut kepada wartawan di sela-sela kegiatan Chemistry Day bagi mahasiswa baru di Kampus FMIPA UII, Jumat (14/9/2018). Chemistry Day diikuti 118 mahasiswa baru dan berlangsung Senin-Sabtu (3-22/9/2018).

Chemistry Day, kata Dwiarso Rubiyanto, merupakan program memperkenalkan Prodi Kimia secara detail. Mahasiswa baru juga diberikan buku prospektus bagaimana mereka belajar, hingga menyelesaikan studi. Sehingga mereka bisa merencanakan studi mereka dan bisa selesai tepat waktu.

Mahasiswa juga wajib mengikuti workshop instrumentasi kimia dan minyak atsiri. Workshop instrumentasi kimia lebih menitikberatkan pada pengembangan ilmu kimia. Sedangkan workshop minyak atsiri dimaksudkan agar mahasiswa bisa menjadi entrepreneur.

Lebih lanjut Dwiarso Rubiyanto menjelaskan untuk meningkatkan jiwa entrepreneur, Prodi Kimia telah memiliki Center of Essential Oil Studies (CEOS) dan Industri Minyak Atsiri. Pusat studi yang dibentuk bulan Juli 2007 memiliki visi sebagai pusat penelitian, pengkajian dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) Minyak Atsiri yang unggul di Indonesia dan dunia.

Sedang tujuannya, jelas Dwiarso Rubiyanto, di antaranya, menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat tentang minyak atsiri dan manfaatnya. Meningkatkan peran UII, industri swasta dan pemerintah dalam bidang minyak atsiri. Selain itu, menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan terkait bahan dan produk minyak atsiri. Serta melestarikan sumber daya alam minyak atsiri secara berkelanjutan.

Menurut Dwiarso Rubiyanto, minyak atsiri (essential oil) Indonesia merupakan salah satu komoditas ekonomi yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan merupakan salah satu produk industri tradisional yang mendunia. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang tidak mengenalinya atau bahkan tidak dapat membedakan minyak atsiri dengan jenis minyak yang lain hingga sekarang.

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak atsiri yang tersohor di dunia. Jenis-jenis minyak atsiri Indonesia yang telah memasuki pasaran internasional di antaranya nilam, cengkeh, serai wangi, akar wangi, kenanga/ylang-ylang, jahe, pala, gaharu, cendana dan lain-lain. Keragaman tanaman yang menghasilkan minyak atsiri diperkirakan ada ratusan jenis yang termasuk dalam berbagai famili tanaman seperti Labiatae, Lauraceae, Graminae, Myrtaceae, Umbiliferae dan lain-lain.

Minyak atsiri merupakan salah satu jenis bahan berbentuk minyak yang tersusun oleh campuran senyawa organik, sebagian besar digolongkan ke dalam senyawa terpenoid.
“Industri parfum/fragrans, flavor, sabun, obat, kosmetika dan lain-lain merupakan pengguna terbesar komoditas minyak atsiri di samping penggunaan langsung pada bidang pertanian, kesehatan, kecantikan dan aromaterapi,” kata Dwiarso.

Melalui CEOS, terang Dwiarso, mahasiswa dapat mempraktekan ilmu dan akan mendapatkan ketrampilan berwirausaha dengan mengembangkan minyak atsiri. Kelompok mahasiswa yang tergabung dalam CEOS sudah sering mendapatkan banyak pesanan di antaranya, sabun cair.

“Belajar kimia itu tidak sulit, tetapi justru menguntungkan, bisa membuka peluang kerja bagi dirinya dan orang lain. Tidak harus menjadi pegawai. Penanaman jiwa entrepreneur itu kalau tidak ada wadahnya sulit,” tandas Dwiarso.

Mahasiswa UII Temukan Alat Penurun Glukosa Nasi Putih

Sejumlah mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil mengembangkan alat bernama Reducer of Glycemic Index in Rice (Roger). Alat ini berfungsi untuk menurunkan kandungan glukosa nasi putih sehingga aman dikonsumsi penderita Deabetes Millitus (DM).

Roger dikembangkan lima mahasiswa Nurul Hidayah (Fakultas Kedokteran), David Arohman dan Damas Reza Pramuditya (Program Studi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri), Istnaini ‘Ainur Rohmah (Program Studi Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Sosial Budaya), dan Desi Nasriyanti (Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Mereka adalah Tim Program Kreativitas Mahasiswa Penerepan Tekhnologi (PKMT)di bawah bimbingan dosen FMIPA, Dhina Fitriastuti.

“Kita bisa berkolaborasi karena bertemu di Excellance Community UII. Komunitas penerima beasiswa dari UII. Alhamdulillah Roger berhasil meraih medali perak di Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional-Red) 2018,” kata Nurul Hidayah yang didampingi keempat anggota Tim Roger di Kampus FMIPA UII, Rabu (5/9).

Lebih lanjut Nurul mengatakan mekanisme Roger memadukan sistematika kerja penanak nasi dan peniris minyak. Selain itu, juga memanfaatkan sistem pemanas dan termostat yang dapat menanak nasi serta gaya sentrifugal untuk merubah tekanan dalam ruangan dengan kecepatan putaran tertentu.

Roger ini memiliki kapasitas menanak nasi dan menurunkan glukosa nasi putih 3 kilogram dan membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Roger telah terbukti menurunkan indeks glikemik nasi putih dengan penurunan sebesar 27 persen.

Selanjutnya, nasi tersebut diujikan terhadap pasien penderita Diabetes Mellitus (DM). Ada dua kelompok orang yang dijadikan uji coba nasi yang dihasilkan Roger. Sebanyak 10 orang penderita DM mengonsumsi nasi Roger, dan 10 orang tidak diberi nasi Roger.

“Hasil penurunan nilai glukosa darah kapiler sebesar 75 persen pada pasien DM yang sebelumnya dilakukan intervensi berupa konsumsi nasi roger 10 gram, dibandingkan dengan pasien yang mengonsumsi nasi reguler 10 gram,” kata Nurul yang juga calon dokter ini.

Ide membuat Roger, kata Nurul, jumlah penderita DM di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, terdapat 285 juta orang mengalami DM dan akan meningkat menjadi 439 juta pada tahun 2030. “Kunci utama pengobatan DM adalah mencegah progresifitas penyakit. Karena itu, dikembangkan Roger, penurun glukosa nasi putih,” ujarnya.

Ditambahkan Dhina Fitriastuti, Roger penurun glukosa nasi putih ini telah diterapkan pada perusahaan katering sehat ‘My Heartbeat Company.’ Respons mitra kerja tersebut sangat positif. Ada peningkatan efektivitas dalam memproduksi nasi putih rendah glukosa untuk penderita DM. Sehingga ini menjadi salah satu keunggulan katering tersebut untuk memperluas pemasaran.

“Diharapkan Roger, penurun glukosa nasi putih ini dapat membantu bisnis makanan sehat. Sehingga upaya hidup sehat dapat diterapkan lebih maksimal. Kini Roger tengah diajukan untuk mendapatkan hak paten,” kata Dhina.

Mahasiswa D3 Analisis Kimia Sukses Selenggarakan LKTIN

Sabtu (25/8/18) mahasiswa Prodi D3 Analisis Kimia UII menyelenggarakan Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTI) untuk siswa siswi SMA/SMK/MA sederajat. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan tahun kedua yang dilaksanakan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Analis Kimia (HMAK). Lomba yang dilaksanakan di Ruang Auditorium FMIPA tersebut merupakan babak final setelah melewati serangkaian seleksi makalah dan mengambil nama Mission dengan tema “Peningkatan Potensi Sumber Daya Manusia Berdaya Saing Global melalui Penerapan IPTEK”.  Babak final LKTIN diikuti oleh beberapa sekolah seperti MAN 1 Pekanbaru, MAN 2 Tasikmalaya, SMAN 2 Semarang, SMAN 1 Sikur Nusa Tenggara Barat dan SMK SMTI Yogyakarta. Menurut Salwa Syiana Aulia yang juga mahasiswa Prodi D3 Analisis Kimia UII angkatan 2016 selaku Ketua Panitia menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan  Mission adalah untuk menggali potensi siswa SMA sederajat di seluruh Indonesia.

Tri Esti Purbaningtias sebagai Ketua Prodi D3 Analisis Kimia dalam sambutan pembukaan lomba menyampaikan bahwa saat ini perlu ada ide-ide kreatif dari siswa siswi SMA untuk membantu dalam memecahkan berbagai persoalan bangsa.  Esti menambahkan bahwa kegiatan yang sepenuhnya dirancang oleh mahasiswa merupakan bagian dari pengembangan soft skill mahasiswa Prodi D3 Analisis Kimia. Thorikul Huda selaku Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan dan Alumni dalam sambutannnya juga berharap agar para peserta dapat memberikan sumbangan pemikiran agar bangsa Indonesia bisa sejajar dengan Negara- Negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Thorik yang mewakili Dekan FMIPA UII juga memberikan informasi kepada peserta dan guru pendamping bahwa UII merupakan kampus nasional pertama di Indonesia karena didirikan pada tanggal 8 Juli 1945 sebelum proklamasi kemerdekaan.

Lomba yang ditutup pada pukul 17.00 diakhir dengan pengumuman pemenang. Adapun para pemenang pada Mission 2018 untuk Juara 1 sampai dengan 3 masing-masing berasal dari SMK SMTI Yogyakarta, SMAN 2 Semarang dan MAN 1 Pekanbaru.

Dekan FMIPA UII Ikut Menyusun Program MIPAnet 2019-2020

MIPAnet yang merupakan jaringan kerjasama nasional lembaga pendidikan tinggi bidang MIPA melakukan pertemuan di Institut Teknologi Bandung (ITB) guna merancang program kerja tahun 2019 – 2020 pada hari Sabtu (25/8/15). Jaringan yang telah berdiri sejak tahun 1999 memiliki visi MIPA-net merupakan lembaga yang handal dan berpengaruh di dalam negeri dan diakui keberadaannya di luar negeri. Saat ini MIPAnet telah memiliki anggota sekitar 75 dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan FMIPA UII merupakan salah satu anggota yang aktif terlibat dalam kegiatan MIPAnet. Prof. Riyanto selaku Dekan FMIPA UII turut serta dalam acara yang dilaksanakan di Ruang Enstein-Hilbert Gedung FMIPA ITB tersebut.
Terdapat 4 program utama yang ada di MIPAnet yaitu 1) Penguatan kelembagaan MIPAnet, 2) Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi MIPA di Indonesia, 3) Penyelenggaraan Rakornas/SEMIRATA/Rapat Kerja MIPAnet, 4) Pengenalan dan Promosi Sains dan Matematika. Khusus untuk program keempat memiliki tujuan untuk lebih membumikan sains dan matematika kepada generasi muda agar mereka menyenangi belajar lebih lanjut tentang sains dan matematika. Kegiatan utama yang dihasilkan pada rapat yang dihadiri oleh dekan Fakultas MIPA dan Fakultas Biologi se-Indonesia tersebut adalah Kuliah Singkat MIPA (KSM).
Usulan penyelenggaran KSM akan di review terlebih dahulu oleh Komite Akademik MIPAnet (KA-MIPAnet). Setiap Fakultas/Sekolah yang menaungi bidang MIPA dan/atau pendidikan MIPA di Indonesia dapat mengusulkan untuk menjadi penyelenggara KSM. Adapun topik dari KSM menyesuaikan karateristik dari masing-masing perguruan tinggi pengusul.

MASA TA’ARUF MAHASISWA FMIPA 2018

Mahasiswa baru FMIPA UII 2018 mengawali kegiatan orientasi pada hari Sabtu tanggal 18 Agustus 2018. Kegiatan orientasi mahasiswa baru diberi nama Masa Ta’aruf (MASTA) dengan mengambil tema “Membentuk Pemimpin Muslim di Era Millenial dalam Menghadapi Tantangan dan Perspektif Baru”. Hadir dalam acara pembukaan MASTA 2018 adalah Ketua LEM, Ketua DPM serta Dekan dan Wakil Dekan FMIPA UII. Fauzan Azhari sebagai Ketua MASTA 2018 memberikan ucapan selamat datang sekaligus berharap kepada seluruh mahasiswa baru untuk dapat berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga kemahasiswaan di FMIPA UII.  Hal senada juga diungkapkan oleh M. Ari Wicaksono dan Achmad Kurniasyah Thalib selaku Ketua LEM dan Ketua DPM FMIPA UII. Achmad panggilan Ketua DPM FMIPA menambahkan bahwa mahasiswa juga harus menyiapkan diri sebagai calon pemimpin bangsa karena melekat predikat sebagai Iron Stock. Selain itu juga Achmad menyampaikan status lain yang disandang oleh mahasiswa adalah sebagai Agent of change dan Agen of Social Control sehingga mahasiswa juga harus peka terhadap persoalan-persoaan social yang ada di sekitarnya.

Dekan FMIPA yang hadir pada acara pembukaan memberikan sambutan pengarahan kepada seluruh peserta dan panitia MASTA 2018. Prof. Riyanto selaku Dekan menyampaikan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat terukur dengan banyaknya orang yang peduli atau berminat untuk mempelajari ilmu sains. Pembelajaran ilmu sains dapat mengantarkan seseorang menjadi kritis dan inovatif sehingga dapat menjadi ilmuwan yang hasil risetnya dapat dimanfaatkan oleh orang masyarakat. “khoirunnas anfa’uhum linnas atau sebaik-baik manusia adalah yang mampu meberikan manfaat pada orang lain”, ungkap Riyanto.  Riyanto berharap mahasiswa baru mampu melakukan inovasi-inovasi baru karena perubahan yang ada di luar sana sangat cepat.

Usai pembukaan dilanjutkan dengan penyampaian materi dengan tema Personal Branding for The Future Leader dan To Be A Moslem Leader yang masing-masing disampaikan oleh Lutfi Chabib dan Shubhi Mahmashony Harimurti. Kegiatan MASTA 2018 hari pertama berakhir pada pukul 12.00. Hari kedua MASTA 2018 banyak diisi dengan pengenalan lembaga intenal kampus dan melatih daya kritis mahasiswa baru terkait dengan adanya isu tentang revolusi industry 4.0. Pengenalan tentang revolusi industry, peluang dan tantangannya disampaikan oleh Thorikul Huda yang juga Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan dan Alumni FMIPA UII. Usai pemaran oleh Thorikul Huda dilanjutkan dengan Focus Group Discussion untuk membahas isu terkait revolusi industry 4.0 dan diteruskan penyampaian hasil diskusi oleh masing-masing perwakilan jamaah Peserta MASTA 2018. Hari kedua MASTA 2018 juga diadakan untuk pengenalan unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang ada di FMIPA dan kegiatan berakhir pada pukul 17.00.

Hari ketiga MASTA 2018 diawali dengan bakti social ke beberapa masjid yang ada di sekitar Kampus Terpadu UII. Bakti social tersebut dilakukan dengan kegiatan pemberian paket sembako kepada warga ynag kurang mampu dan diteruskan dengan kegiatan bersih-bersih diareal sekitar masjid. Di hari ketiga atau hari terakhir diadakan malam inagurasi untuk menutup seluruh rangkaian kegiatan MASTA 2018.

Pertemuan Orang Tua/Wali Mahasiswa Baru Farmasi

Jurusan Farmasi FMIPA UII kembali mengadakan kegiatan pertemuan orang tua atau wali mahasiswa baru angkatan 2018. Acara tersebut dilaksanakan di Ruang Auditorium FMIPA UII pada tanggal 14 Agustus 2018. Thorikul Huda, M.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan dan Alumni FMIPA turut memberikan sambutan sekaligus membuka acara yang dilaksanakan satu hari setelah Kuliah Perdana Mahasiswa baru UII. Dalam sambutannya Thorikul Huda mengucapkan selamat datang dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada orang tua atau wali mahasiswa baru angkatan 2018 yang telah memberikan kepercayaan kepada UII untuk bisa mendidik putra-putri mereka.

Selain itu juga Thorikul Huda menyampaikan bahwa UII merupakan perguruan tinggi nasional pertama di Indonesai yang didirikan oleh tokoh nasional diantaranya Moh. Hatta, M. Nasir, Mr. Moh. Roem, Kahar Muzakir Wahid Hasim yang mereka semua adalah tokoh BPUPKI.  “UII didirikan pada tanggal 8 Juli 1945 dan saat ini memiliki 8 Fakultas”, ungkap Thorikul Huda.  Menurut Thorikul Huda, capaian UII terbaru yaitu Apresiasi yang diberikan oleh Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi terkait dengan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang dilaksanakan di UII. “Terdapat 4 universitas yang mendapatkan apresiasi dari kemenristek dikti dan salah satunya UII”, tambah Thorik.

Usai pembukaan oleh Wakil Dekan dilanjutkan dengan sambutan dan penjelasan Jurusan Farmasi oleh Dr. Yandi Syukri, M.Si., Apt selaku Ketua Jurusan (Kajur) Farmasi. Yandi Syukri menyambut baik kehadiran orang tua atau wali dan berharap dapat bersinergi dengan Jurusan Farmasi FMIPA UII. Saat ini di Jurusan Farmasi UII ada dua Program Studi yaitu S1 Farmasi dan Profesi Apoteker. Keunggulan Jurusan Farmasi UII diantaranya adalah jumlah dosen yang sudah banyak bergelar doctor (S3) dan peralatan laboratorium yang sangat lengkap dibandingkan dengan prodi sejenis di kampus lain.

Layanan Micro Teaching Hospital (MTH) yang ada di Jurusan Farmasi UII saat ini merupakan satu-satunya yang ada di perguruan tinggi seluruh Indonesia.  Yandi Syukri dalam penjelasan juga menyebutkan bahwa prestasi mahasiswa mahasiswa Farmasi UII sangat membanggakan diantaranya adalah prestasi di tingkat internasional. Salah satu prestasi internasional tersebut adalah diraihnya medali perak oleh Tim Farmasi UII yang ajang World Invention Creativity Olympic  (WICO) 2018 yang diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan.  Setelah penjelasan dari Ketua Jurusan dilanjutkan dengan Seminar dengan Tema Parenting di Era Digital yang disampaikan oleh Risdiono, S.T., M.Eng., Ph.D yang merupakan dosen di Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri UII.

FMIPA UII Peduli Gempa Lombok

Bencana gempa bumi di Lomobok yang terjadi di tahun ini menghadirkan keprihatinan yang sangat dalam termasuk juga FMIPA UII. Sebagai bentuk kepedulian FMIPA UII terhadap masyarakat di Lombok yang terkena bencana, maka FMIPA UII berupaya untuk membantunya dengan mengirimkan petugas ke daerah bencana untuk menyalurkan bencana.  Dosen FMIPA UII yang saat ini telah ada di Lombok dan turut membantu penyaluran bantuan adalah Hady Anshori, S.Si., M.Sc., Apt dan Yulianto, S.Farm., MPH.  Mereka berdua berangkat paska gempa dengan kekuatan 7 SR pada tanggal 5 Agustus 2018.

FMIPA UII bergerak cepat dengan membentuk tim dari semua unsur seperti dosen, karyawan dan mahasiswa untuk menggalang bantuan bagi korban bencana gempa di pulau Lombok. Tim bertugas mengumpulkan, mengidentifikasi dan menyalurkan bantuan kepada korban.  Bantuan yang dikumpulkan berupa obat-obatan, makanan, pakaian dan uang.  Dua hari paska gempa, tim berhasil mengumpulkan bantuan yang dibawa kelokasi pengungsian secara langsung dan berkoordinasi dengan tim Fakultas Kedokteran UII yang berangkat terlebih dahulu.

Tim FMIPA UII berangkat menuju Pulau Lombok dengan membawa obat-obatan, kebutuhan pangan serta santunan korban meninggal. Selain itu juga tim FMIPA UII juga membawa perlengkapan seperti selimut dan kebutuhan untuk balita. Salah satu korban yang meninggal dunia adalah Denda Fitria Hidayah yang tercatat sebagai mahasiswa di Prodi D III Analisis Kimia angkatan tahun 2012 dan melanjutkan ke Prodi Kimia FMIPA UII pada tahun 2015.

Santunan juga diberikan kepada Kelurga dari mahasiswa Haris Bagas Wira yang merupakan mahasiswa Farmasi karena bapaknya meninggal saat gempa terjadi. Didampingi oleh Yulianto yang akrab dipanggil Lek Sukir langsung menyerahkan santunan ke keluarga Haris di daerah Lombok Timur.