KAJIAN AKBAR MUSLIMAH UKMK JAMAAH AL-GHUROBA FMIPA

ARAS REALITA

Sebuah riset yang dilakukan oleh platform media sosial The Conversation menemukan bahwa usia 16-24 tahun menjadi periode kritis untuk kesehatan mental remaja di Indonesia. Temuan ini sejalan dengan pernyataan dari World Health Organization (WHO), yang menyatakan bahwa satu dari empat remaja di seluruh dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Menurut World Federation for Mental Health, kesehatan mental dapat diukur melalui kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang baik, sesuai dengan keadaan orang lain. WHO juga menetapkan beberapa indikator kesehatan mental, termasuk kemampuan mengenali potensi diri, produktivitas, kemampuan mengatasi stres sehari-hari, kontribusi positif pada lingkungan sekitar, dan kebahagiaan.
Imam Al Ghazali memberikan pandangan unik terkait indikator kesehatan mental. Menurutnya, kesehatan mental mencakup memiliki aqidah yang kokoh, kepribadian baik, bebas dari penyakit hati, produktif dalam hubungan sosial, dan mencapai kebahagiaan. Manusia, menurut perspektif agama, terdiri dari tiga komponen: rohani (spiritual), aqlani (akal/fikri), dan jasmani/fisik.
Allah SWT telah memberikan perhatian khusus terhadap dimensi ruhani manusia, sebagaimana tercermin dalam surah as-syams ayat 8, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” Allah juga bersumpah dalam QS. As-Syams: 7, “Demi jiwa serta penyempurnaan ciptaan-Nya.” Unsur emosional manusia sangat dipengaruhi oleh dimensi rohani, dan Allah senantiasa mengingatkan pentingnya mengisi dimensi rohani dengan mengingat-Nya, sebagaimana disampaikan dalam surat Ar-Rad ayat 28, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.” Kunci kekuatan rohani adalah bertaqwa, di mana kekuatan mentalitas ketaqwaan seseorang memainkan peran krusial dalam ketahanannya terhadap tekanan kehidupan.
Komponen kedua adalah akal, yang memerlukan bimbingan yang benar agar tidak tersesat. Penggunaan akal yang bijaksana memerlukan panduan dari Al-Qur’an dan Sunnah sebagai peta arah agar sesuai dengan ridha Allah SWT.
Komponen ketiga adalah fisik, yang juga memerlukan perhatian dan pemeliharaan melalui olahraga, konsumsi makanan halal dan thayyib, perawatan kesehatan saat sakit, tidur yang cukup, dan menggunakan tubuh untuk melakukan tindakan yang bermanfaat, bukan bermaksiat. Fisik yang kuat dan sehat memudahkan individu untuk melakukan amal shalih.
Dua kunci utama dalam menjaga kesehatan mental adalah menjaga kesucian hati, sebagaimana dijelaskan dalam surat As-Syams ayat 9, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa itu,” dan menghindari sikap al-wahn, yaitu cinta berlebihan pada dunia dan takut mati. Integrasi antara dimensi rohani, akal, dan fisik menjadi fondasi utama dalam mencapai kesehatan mental yang holistik dan seimbang.
Diambil dari ringkasan materi yang disampaikan oleh Himma Ahsana