Fenomena pencemaran logam berat terjadi akhir-akhir ini. Pencemaran ini dapat berasal dari limbah kegiatan industri, pertanian, pemukiman atau pertambangan yang merembes ke air tanah dan masuk ke sungai sehingga sampai ke permukaan air laut. Salah satu spesi logam berat timbal (Pb) yang sangat toksik terhadap biota laut adalah dalam bentuk ionnya (Pb2+) yang dapat menyebabkan keracunan dan membunuh ikan serta memiliki dampak negatif bagi manusia.

Di sisi lain, limbah kulit manggis di indonesia jumlahnya sangat melimpah dan jarang untuk diolah kembali. Padahal limbah ini mengandung senyawa aktif yang masih dapat dimanfaatkan, salah satunya yaitu digunakan sebagai agen bioreduktor dalam sintesis nanopartikel perak (AgNPs).

Tiga mahasiswa Program Studi S1 Kimia Universitas Islam Indonesia (UII) yang beranggotakan Khoirunisa, Hasna’ Azizah Zahra’, Rahmania Audita, yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE) dibawah bimbingan Wiyogo Prio Wicaksono, S.Si., M.Si berhasil menciptakan inovasi perangkat untuk mendeteksi pencemaran Pb2+ di perairan dengan mengembangkan Alat Deteksi berbasis Kertas Tes Strip yang diimobilisasi AgNPs. AgNPs yang dipreparasi dengan bioreduktor ekstrak kulit manggis berhasil disintesis dan memiliki performa tinggi sebagai sensor kolorimetri untuk deteksi Pb2+ karena ketika semakin tinggi konsentrasi Pb2+ yang diteteskan ke dalam kertas tes strip tersebut, terlihat perubahan warna dari yang awalnya tidak berwarna menjadi kuning-jingga. Bentuk dan penggunaan kertas tes strip ini mirip seperti kertas pH universal yang biasa digunakan di laboratorium”, ucap Khoirunnisa pada Senin (30/8). Penelitian ini berhasil mendapat pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2021 melalui skema PKM-RE.

Dikatakan lebih lanjut oleh Khoirunisa Penelitian ini menghasilkan alat deteksi Pb2+ yang sederhana, sensitive, portable, selektif, mudah digunakan di lapangan (on site), murah dan cepat, serta tanpa menggunakan bahan kimia beracun”.

“Kertas ini mampu mendeteksi sampel sampai level 2,8 ppb. Harapannya inovasi ini dapat terus dikembangkan dan dapat diproduksi secara massal, baik untuk keperluan monitoring lingkungan, industri, maupun laboratorium”, pungkasnya.